Anak kita pandai main komputer? Sungguh sangat membanggakan bagi orang tua yang gagap teknologi seperti saya ketika melihat si kecil sudah terampil memainkan komputer. Orang bilang, namanya juga anak milenium. Kalau emaknya dulu hanya bermain boneka kayu atau bermain setinan (gundu) dan petak umpet maka wajarlah sekarang si anak main komputer karena tuntutan zaman memang seperti itu. Tuntutan zaman? Entahlah.
Ini kisah tentang keponakan saya, seorang remaja, masih duduk di kelas VII. Rumah kami memang agak jauh sehingga saya tak tahu aktivitas hariannya selain sekolah. Beberapa waktu yang lalu ia menginap di rumah saya selama beberapa hari. Pada saat itulah, saya pun mengetahui kebiasaan keponakan saya itu, terutama yang berkaitan dengan internet.
Pada hari pertama, ia tiba di rumah saya pukul dua siang. Setelah shalat dan makan siang, ia pun asyik bermain game online. Entah game apa namanya saya tak tahu, yang jelas ada aktivitas tembak-menembak di layar laptopnya. Nyaris tak pernah lekang tatapan matanya dari layar laptop dengan posisi tubuh telungkup di atas tempat tidur. Malamnya, ia tidur pukul 02.00 dinihari. Itu pun setelah saya peringatkan beberapa kali karena malam telah sedemikian larut.
Luar biasa, saya pikir. anak semuda itu melakukan aktivitas fisik yang sangat minim dengan posisi tubuh yang nyaris tetap. Kalau saya yang melakukannya, dan sekujur tubuh saya bisa teriak, mungkin mata, leher, punggung dan otak saya sudah menuntut untuk berganti majikan.
“Memangnya gak capek main game seperti itu?” tanya saya suatu waktu. Dia hanya menggeleng tentu saja sambil tetap memainkan gamenya. Wah, saya yang lihat saja capek, kok, dia tidak, ya? Ketika saya konfirmasikan kepada kakak saya, ternyat pekerjaannya di rumah juga main game melulu sehingga kakak saya pun merasa sebal juga melihatnya.
Sebagai orang tua, tentunya kita tak hanya cukup merasa sebal jika anak sudah mulai kecanduan game baik yang online maupun yang tak online. Kecanduan, apa pun itu, bukan hal yang baik. Dalam sebuah kasus yang pernah saya bacadi sebuah majalah wanita, anak yang kecanduan game online ini akan mengalami masa-masa sakau jika pada jam-jam ia bermain game tak menemukan komputer. Tangannya akan gemetaran dan gerakan jemarinya seolah-olah sedang menekan tuts komputer. Selain itu, pikirannya juga susah untuk diajak konsentrasi.
Sebagai orang tua, kita harus waspada jika anak mulai menunjukkan kesukaan terhadap suatu hal secara berlebihan, dalam hal ini game online. Karena, jika anak sudah benar-benar kecanduan, maka akan susah bagi kita untuk menghentikannya.
Berikut adalah beberapa langkah yang bisa kita lakukan jika anak sudah mulai menunjukkan kecenderungan berlebihan bermain game online.
1. Membatasi, bukan melarang
Melarang anak bermain komputer dan internet pada zaman sekarang adalah sesuatu yang mustahil dan tak perlu kita lakukan. Namun, memberinya kebebasan tanpa batas untuk mengakses internet, juga bukan tindakan yang sangat bagus. Kita perlu membelikan anak komputer dan modem, dalam rangka meningkatkan wawasannya terhadap globalisasi. Namun, jika anak belum bisa mengontrol kegiatannya sendiri, maka perlulah kita memberinya batasan sesuai dengan kesepakatan yang kita lakukan bersama anak. Misalnya, dua atau tiga jam sehari untuk membuka internet. Setelah itu, modem dipegang oleh orang tua, jika anak memang belum bisa bertanggung jawab. Dengan demikian, akses anak ke dunia luar tetap ada, tetapi waktu lain bisa digunakannya untuk kegiatan yang lebih bermanfaat.
2. Selalu ada untuk anak
Tentu sulit bagi kita untuk selalu ada secara riil di muka anak, karena kita pun perlu bekerja. Namun, dengan menanyakan aktivitas anak seharian selama kita tak bersamanya tentu akan menimbulkan kedekatan di hati anak. Dengan kedekatan yang terjalin antara anak dan orang tua, komunikasi yang sehat pun terbentuk. Hal ini akan memungkinkan adanya bentuk rasa tanggung jawab anak terhadap orang tua sehingga apa yang dipesankan tidak dilanggar. Biasanya anak yang dekat dengan orang tua akan sulit berbohong karena orang tua sudah sangat paham dengan bahasa tubuh anak.
3. Beri aktivitas fisik yang positif
Bermain game merupakan aktivitas otak yang sedikit sekali memakai aktivitas fisik. Paling-paling hanya tangan saja yang ikut aktif, itu pun tak seluruh bagian tangan. Padahal, anak merupakan individu yang sedang dalam masa pertumbuhan. Banyak fungsi ototnya yang masih perlu dioptimalkan agar menjadi pribadi yang kuat secara fisik dan mental. Jika setiap hari waktu anak hanya dihabiskan untuk bermain game, bagaimana dengan kebutuhannya untuk mengasah fisiknya?
Oleh karena itu, perlulah kiranya orang tua untuk mengarahkan anak untuk menjalani aktivitas fisik. Kalau perlu, jadwalkan kegiatan fisiknya seperti renang atau volly ataupun sepakbola, musik, tarimdan lain-lain sesuai dengan bakat dan minat anak, agar anak tak hanya asyik bermain game.
Anak merupakan aset kita di masa depan. Alangkah sayangnya jika kebanyakan waktunya hanya habis untuk bermain game sehingga melupakan kewajiban utamanya. Penting bagi orang tua untuk mengarahkan anak sejak dini agar bisa menjadi pribadi yang mandiri dan kuat baik secara fisik maupun mental.
Selasa, 19 Juni 2012
Anak kita pandai main komputer? Sungguh sangat membanggakan bagi orang tua yang gagap teknologi seperti saya ketika melihat si kecil sudah terampil memainkan komputer. Orang bilang, namanya juga anak milenium. Kalau emaknya dulu hanya bermain boneka kayu atau bermain setinan (gundu) dan petak umpet maka wajarlah sekarang si anak main komputer karena tuntutan zaman memang seperti itu. Tuntutan zaman? Entahlah. Ini kisah tentang keponakan saya, seorang remaja, masih duduk di kelas VII. Rumah kami memang agak jauh sehingga saya tak tahu aktivitas hariannya selain sekolah. Beberapa waktu yang lalu ia menginap di rumah saya selama beberapa hari. Pada saat itulah, saya pun mengetahui kebiasaan keponakan saya itu, terutama yang berkaitan dengan internet. Pada hari pertama, ia tiba di rumah saya pukul dua siang. Setelah shalat dan makan siang, ia pun asyik bermain game online. Entah game apa namanya saya tak tahu, yang jelas ada aktivitas tembak-menembak di layar laptopnya. Nyaris tak pernah lekang tatapan matanya dari layar laptop dengan posisi tubuh telungkup di atas tempat tidur. Malamnya, ia tidur pukul 02.00 dinihari. Itu pun setelah saya peringatkan beberapa kali karena malam telah sedemikian larut. Luar biasa, saya pikir. anak semuda itu melakukan aktivitas fisik yang sangat minim dengan posisi tubuh yang nyaris tetap. Kalau saya yang melakukannya, dan sekujur tubuh saya bisa teriak, mungkin mata, leher, punggung dan otak saya sudah menuntut untuk berganti majikan. “Memangnya gak capek main game seperti itu?” tanya saya suatu waktu. Dia hanya menggeleng tentu saja sambil tetap memainkan gamenya. Wah, saya yang lihat saja capek, kok, dia tidak, ya? Ketika saya konfirmasikan kepada kakak saya, ternyat pekerjaannya di rumah juga main game melulu sehingga kakak saya pun merasa sebal juga melihatnya. Sebagai orang tua, tentunya kita tak hanya cukup merasa sebal jika anak sudah mulai kecanduan game baik yang online maupun yang tak online. Kecanduan, apa pun itu, bukan hal yang baik. Dalam sebuah kasus yang pernah saya bacadi sebuah majalah wanita, anak yang kecanduan game online ini akan mengalami masa-masa sakau jika pada jam-jam ia bermain game tak menemukan komputer. Tangannya akan gemetaran dan gerakan jemarinya seolah-olah sedang menekan tuts komputer. Selain itu, pikirannya juga susah untuk diajak konsentrasi. Sebagai orang tua, kita harus waspada jika anak mulai menunjukkan kesukaan terhadap suatu hal secara berlebihan, dalam hal ini game online. Karena, jika anak sudah benar-benar kecanduan, maka akan susah bagi kita untuk menghentikannya. Berikut adalah beberapa langkah yang bisa kita lakukan jika anak sudah mulai menunjukkan kecenderungan berlebihan bermain game online. 1. Membatasi, bukan melarang Melarang anak bermain komputer dan internet pada zaman sekarang adalah sesuatu yang mustahil dan tak perlu kita lakukan. Namun, memberinya kebebasan tanpa batas untuk mengakses internet, juga bukan tindakan yang sangat bagus. Kita perlu membelikan anak komputer dan modem, dalam rangka meningkatkan wawasannya terhadap globalisasi. Namun, jika anak belum bisa mengontrol kegiatannya sendiri, maka perlulah kita memberinya batasan sesuai dengan kesepakatan yang kita lakukan bersama anak. Misalnya, dua atau tiga jam sehari untuk membuka internet. Setelah itu, modem dipegang oleh orang tua, jika anak memang belum bisa bertanggung jawab. Dengan demikian, akses anak ke dunia luar tetap ada, tetapi waktu lain bisa digunakannya untuk kegiatan yang lebih bermanfaat. 2. Selalu ada untuk anak Tentu sulit bagi kita untuk selalu ada secara riil di muka anak, karena kita pun perlu bekerja. Namun, dengan menanyakan aktivitas anak seharian selama kita tak bersamanya tentu akan menimbulkan kedekatan di hati anak. Dengan kedekatan yang terjalin antara anak dan orang tua, komunikasi yang sehat pun terbentuk. Hal ini akan memungkinkan adanya bentuk rasa tanggung jawab anak terhadap orang tua sehingga apa yang dipesankan tidak dilanggar. Biasanya anak yang dekat dengan orang tua akan sulit berbohong karena orang tua sudah sangat paham dengan bahasa tubuh anak. 3. Beri aktivitas fisik yang positif Bermain game merupakan aktivitas otak yang sedikit sekali memakai aktivitas fisik. Paling-paling hanya tangan saja yang ikut aktif, itu pun tak seluruh bagian tangan. Padahal, anak merupakan individu yang sedang dalam masa pertumbuhan. Banyak fungsi ototnya yang masih perlu dioptimalkan agar menjadi pribadi yang kuat secara fisik dan mental. Jika setiap hari waktu anak hanya dihabiskan untuk bermain game, bagaimana dengan kebutuhannya untuk mengasah fisiknya? Oleh karena itu, perlulah kiranya orang tua untuk mengarahkan anak untuk menjalani aktivitas fisik. Kalau perlu, jadwalkan kegiatan fisiknya seperti renang atau volly ataupun sepakbola, musik, tarimdan lain-lain sesuai dengan bakat dan minat anak, agar anak tak hanya asyik bermain game. Anak merupakan aset kita di masa depan. Alangkah sayangnya jika kebanyakan waktunya hanya habis untuk bermain game sehingga melupakan kewajiban utamanya. Penting bagi orang tua untuk mengarahkan anak sejak dini agar bisa menjadi pribadi yang mandiri dan kuat baik secara fisik maupun mental.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar